Obat & Penyakit

Share this

Stress pada Wanita Usia Menengah Meningkatkan Risiko Stroke Dua Kali Lipat

Stress pada Wanita Usia Menengah Meningkatkan Risiko Stroke Ganda
KabarSEHATOnline Wanita di usia menengah yang mengalami stress memiliki risiko mengalami stroke dua kali lipat lebih tinggi. Hal ini dipaparkan dalam penelitian Stroke: Journal of the American Heart Association.
 
Dalam penelitian yang dilakukan di Australia selama 12 tahun terhadap 10.547 wanita berusia di antara 47 – 52 tahun, para peneliti menemukan bahwa wanita yang depresi memiliki 2,4 kali peningkatan risiko mengalami stroke dibandingkan mereka yang tidak mengalami depresi. Bahkan saat para peneliti mengurangi beberapa faktor yang meningkatkan risiko stroke, para wanita yang mengalami stress tersebut masih memiliki 1,9 kali kemungkinan lebih besar mengalami stroke.
 
“Saat mengobati wanita, dokter harus dapat mengenali perilaku alami dari kesehatan mental yang buruk dan efek jangka panjangnya,” ujar Caroline Jackson, Ph.D., peneliti dan epidemiologis dari School of Population Health di University of Queensland , Australia. “Panduan pencegahan stroke yang ada saat ini cenderung untuk mengabaikan peran potensial dari depresi,” tambahnya.
 
Ini merupakan studi berskala besar pertama dimana para peneliti memeriksa hubungan antara depresi dan stroke pada wanita muda di usia menengah. Perbandingan terdekat dengan studi yang sama di AS, dimana ditemukan bahwa risiko stroke 30 persen lebih tinggi bagi para wanita yang stress. Meski begitu, usia rata-rata studi tersebut 14 tahun lebih tua.
 
Jackson dan rekannya menganalisa hasil survey dari wakil nasional Australian Longitudinal Study on Women’s Health. Para peserta survey menjawab pertanyaan mengenai kesehatan mental dan fisik mereka serta detil pribadi lainnya setiap tiga tahun selama tahun 1998 – 2010.
Sekitar 24 persen dari peserta dilaporkan mengalami depresi, berdasarkan respon mereka terhadap skala depresi yang telah distandarisasi dan penggunaan obat anti-depresan yang mereka konsumsi. Respon laporan pribadi dan rekaman kematian menunjukkan 177 kejadian stroke terjadi pertama kali selama dilakukannya studi ini. 
 
Untuk membedakan efek independen depresi, mereka membagi beberapa faktor karakteristik yang dapat mempengaruhi faktor resiko terjadinya stroke, antara lain: usia, status sosial-ekonomi, gaya hidup - seperti merokok, kebiasaan meminum alkohol dan kegiatan fisik – serta kondisi fisiologis termasuk tekanan darah tinggi, penyakit hati, kelebihan berat badan dan diabetes.
 
“Kami masih membutuhkan pendekatan yang lebih tepat untuk mencegah dan mengobati depresi di antara wanita muda, karena hal ini dapat memiliki dampak yang lebih kuat bagi mereka saat ini dibandingkan setelahnya,” ujar Jackson.  Ia sendiri mengungkapkan bahwa masih belum terlalu jelas mengapa depresi dapat berhubungan kuat dengan stroke di kelompok usia ini, namun proses inflamasi dan imunologi tubuh serta efeknya terhadap pembuluh darah dapat menjadi salah satu alasannya. [Bud] Dikutip dari Journal of the American Heart Association, www.heart.org.

Category: 

Comments

Saya penasaran, kenapa uji ini hanya ditujukan pada wanita? Dibatasai usia menengah pula.. Karena menurut saya, semua orang yang tingkat stressnya tinggi (pria wanita, tua muda) pasti memiliki kualitas hidup yang buruk.