Kabar Utama

Share this

Hindari Thalassaemia, Periksa Sebelum Menikah

Hindari Thalassaemia, Periksa Sebelum Menikah Slideshow

KabarSEHATOnline Masih banyak diantara kita yang tidak tahu tentang penyakit Thalassemia. Penyakit ini memang tidak sepopuler diabetes, hipertensi atau stroke. Padahal insiden Thalassemia cukup tinggi di Indonesia. Diperkirakan 6-10% orang Indonesia adalah pengidap Thalassemia, berarti 1 dari 10 orang mengidap Thalassemia.

Thalassaemia adalah penyakit kelainan sel darah merah yang disebabkan berkurang atau tidak dibentuknya bahan pembentuk hemoglobin, yang berakibat sel darah merah mudah pecah. Penyakit ini di turunkan dari kedua orangtua dan bukan merupakan penyakit menular.

Thalassaemia terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu Thalassemia Minor dan Mayor. Thalassemia Trait atau Minor hanya pembawa sifat dan tidak berbahaya. Sedangkan Thalassaemia Mayor adalah jenis Thalassaemia yang menunjukkan gejala anemia, pembesaran hati dan limpa, yang berbahaya dan selalu membutuhkan darah seumur hidupnya karena tidak bisa memproduksi darah merah.

Ciri orang yang menderita Thalassaemia Mayor pada awalnya terlahir normal, gejala baru muncul saat usia beberapa bulan. Anak tampak pucat, lesu, kuning, dan kurang gizi. Pada anak lebih besar selain gejala tersebut sering ditemukan kulit kehitaman, perut membesar, perubahan bentuk wajah (Facies Cooley), tanda-tanda pubertas terlambat, dan gangguan pertumbuhan (perawakan kecil).

Upaya penanganan penderita Thalassaemia Mayor, dilakukan dengan memberikan transfusi darah secara berkala dan berkesinambungan dalam periode atau selang 4-6 minggu sekali. Dengan seringnya transfusi darah, maka zat besi dalam tubuh si penderita akan bertambah banyak. Namun, akibat dari seringnya transfusi darah dapat merusak organ tubuh si penderita, seperti jantung, hati, pankreas dan lain-lain dalam kulit tubuh dapat merubah warna kulit.

Jika suatu pasangan dua-duanya (Ayah dan Ibu) adaha pembawa sifat Thalassaemia, maka anak yang di lahirkan bisa tertular Thalassaemia, baik anak pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya, secara bersilang ada yang tertular dan bisa juga tidak tertular Thalassaemia, bahkan bisa semua anaknya terkena Thalassaemia. Sementara itu, jika salah satu pasangan saja yang pembawa sifat Thalassaemia maka jika memiliki anak, 50% akan tertular Thalassaemia dan 50% tidak tertular Thalassaemia.

Karena itu dianjurkan para pasangan perempuan dan laki-laki yang akan menikah untuk melakukan pemeriksaan darah terlebih dahulu, apakah pasangan Anda memiliki penyakit Thalassaemia atau tidak. Hal ini untuk mencegah terlahirnya keturunan yang rentan terkena Thalassaemia Mayor yang membahayakan. [SaS] Dikutip dari Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI.

Display on:: 

Category: 

Comments

Mblo, sebelum cek thalassaemia, cari pasangannya dulu mblo...

Kalau ternyata sudah cek dan positif thalassemia, apakah bisa diobati? Apa iya harus ganti pasangan.. hehehe. (Cari satu saja susah.. ^.^). But anyway, thanks buat info nya, informatif untuk pasangan-pasangan yang hendak menikah. :)

Pemeriksaan pasangan sebelum menikah merupakan upaya pencegahan mendapatkan keturunan yang rentan penyakit ini. Tapi kalau sudah cinta pastinya bakal susah ya... :) Kalau salah satu dari pasangan adalah pembawa sifat (carrier), maka ada 25% kemungkinan anaknya dapat mengidap penyakit ini. So, masih ada 75% harapan kan,,,,kembali lagi, sebagai makhluk beragama, semua dikembalikan pada Tuhan tentunya... Kan kasihan juga kalau semua carrier Thalassaemia jadi ga dapet jodoh... Bagi penderita Thalassaemia, membutuhkan tranfusi yang terus menerus, dimana penumpukan zat besi yang bertambah banyak dalam tubuh bisa dikeluarkan melalui urine dengan bantuan obat-obatan. Jika kasus nya sudah berat, dapat dilakukan pencangkokan sumsum tulang belakang. Jadi pengobatan yang baik dapat membantu penderita untuk hidup secara normal. So, buat yang mencari pasangan, tetap optimis mendapat pasangan yang sehat...ciayooo.... ^_^