Inspirasi

Share this

Penting, Membangun Sikap Asertif

Penting Membangun Sikap Asertif
Dok. Kabar Sehat

Oleh Gloria S. Haslim, Leader dharma dexa.

Jadilah orang yang asertif! Bagaimana berkomunikasi secara asertif? Bagaimana membangun sikap asertif? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu tahu apa yang dimaksud dengan istilah asertif.

Asertif artinya menghormati diri sendiri dan menghormati orang lain secara seimbang, melihat bahwa orang lain tidak lebih penting atau kurang penting di bandingkan diri sendiri. Mengerti tentang hak-hak yang dimiliki dan mampu mempertahankannya tanpa mengganggu hak orang lain. Berkomunikasi dengan terbuka, langsung (to the point) dan jujur. Mampu menyelesaikan masalah dan bernegosiasi secara fair dan setara. Mungkin ada yang berpendapat, bahwa sikap asertif kelihatannya bukan budaya di Indonesia. Atau masyarakat Indonesia tidak biasa bersikap asertif. Apakah pernyataan ini benar demikian?

Kurangnya sikap asertif mengakibatkan banyak komunikasi yang tidak efektif, banyak hal yang dibicarakan, disepakati, tetapi kemudian tidak dijalankan. Di dalam berkomunikasi semua menyatakan setuju, namun kemudian tidak jelas- apakah setuju hanya sebatas setuju dengan idenya, atau setuju sampai pada tahap mau menjalankan kesepakatan tersebut. Di dalam berkomunikasi, jarang sekali orang memastikan yang mana menjadi tugas siapa. Budaya yang tidak asertif ini, juga mengakibatkan banyak hal yang berjalan tidak efektif, tidak jelas siapa yang punya wewenang, dan siapa yang punya tanggung jawab.

Budaya Indonesia seakan-akan mengajarkan bahwa dalam berkomunikasi, kita perlu memulai kalimat kita dengan,”Mohon maaf, permisi, saya ingin bertanya…..” Sering kali kita mendengar,”Apabila Bapak mengatakan demikian ….” Atau “Apabila diperkenankan…” atau “Maaf, mengganggu, saya berharap, bersama dengan ini….” Semua kalimat di atas menunjukkan gaya bicara yang sangat lemah dan pasif sehingga seakan-akan si pembicara tidak mempunyai posisi yang jelas, tidak mempunyai role yang jelas dan dia perlu permisi, atau dia perlu minta maaf hanya karena ingin menyampaikan pendapatnya, seakan-akan dia tidak berhak menyampaikan pemikirannya.

Bahasa menentukan budaya, bahasa yang tidak efektif akan membentuk budaya yang tidak efektif. Bahasa membentuk gaya, bahasa yang terlalu permissive, membuat gaya yang permissive pula. Bahasa yang pasif, akan membentuk budaya yang pasif pula. Kita mengagumi orang-orang yang berbicara dengan lugas, mereka menggunakan bahasa dengan efektif, sehingga mempersepsikan pribadi yang asertif. Indonesia memiliki banyak tokoh, antara lain sebut saja: Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Mari Elka Pangestu. Mereka piawai dalam berkomunikasi secara aktif, dengan lugas, dan jelas. Indonesia memiliki pembicara-pembicara yang efektif dan berkelas dunia, sehingga sebenarnya kita tidak perlu mengacu pada Oprah, Barbara Walters, Obama, Clinton dan lainnya.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kuat, Bahasa Indonesia tidak perlu dibuat menjadi bahasa yang pasif. Bahasa Indonesia bisa menjadi bahasa yang kuat dan dibanggakan, semua tergantung cara kita menggunakan bahasa ini. Gunakanlah bahasa Indonesia dengan lebih lugas dan kita bangun budaya yang assertif, jadilah pribadi yang asertif. Sumber: Tabloid Kabar Sehat Edisi 013, Oktober - Desember 2011

Category: 

Comments

Saya sependapat bahwa budaya Indonesia seakan-akan mengajarkan dalam berkomunikasi perlu dimulai dengan mohon maaf dst. sehingga menimbulkan pemikiran bahwa sangatlah tidak sopan kalau kita berbicara secara lugas dan langsung kepada lawan bicara kita. Selain itu, sangat disayangkan di dalam jenjang pendidikan formal di Indonesia belum banyak yang mengajarkan anak-anak untuk bisa menyampaikan pemikiran maupun ide-ide secara terbuka.
Untuk mengatasi budaya maupun pendidikan formal yang mungkin tidak mengarah ke sikap asertif, kita bisa memulainya dalam lingkup keluarga. Berkomunikasi secara asertif dalam keluarga akan membentuk sikap asertif dalam setiap anggota keluarga.