Article

Share this

Alasan Minum Antibiotik Harus Dihabiskan

Alasan Minum Antibiotik Harus Dihabiskan
telegraph.co.uk

KabarSEHATOnline Saat sakit ke dokter dan diberikan obat antibiotik, dokter Anda pasti berpesan agar antibiotik yang diresepkan harus dihabiskan walaupun penyakit Anda sudah sembuh. Karena ternyata, jika antibiotik tersebut tidak dihabiskan justru dapat merugikan kesehatan Anda.

Antibiotik adalah jenis obat-obatan yang digunakan melawan infeksi bakteri di dalam tubuh. Antibiotik harus digunakan secara tepat, karena dapat sangat merugikan dalam jangka panjang apabila tidak digunakan secara tepat.

Salah satunya adalah mengkonsumsi antibiotik yang diresepkan dokter hingga habis. Antibiotik bekerja dengan cara menyerang metabolisme dan atau siklus perkembangbiakkan bakteri di dalam tubuh. Bakteri di dalam tubuh tidak bisa benar-benar dimusnahkan. Antibiotik hanya mengurangi jumlah bakteri di dalam tubuh sehingga infeksinya dapat diatasi oleh sistem kekebalan tubuh pasien.

Seorang pakar kesehatan dari St. John's Regional Health Center di Springfield, Amerika Serikat menyatakan, kebanyakan bakteri penyakit sederhana seperti radang tenggorokan dan infeksi telinga menanggapi relatif cepat terhadap antibiotik. Anda akan mulai merasa lebih baik setelah hanya mengon sumsi antibiotik beberapa hari saja. Hal inilah yang membuat Anda sulit untuk menghabiskan obat antibiotik yang mungkin masih harus dikonsumsi beberapa hari lagi.

Inilah akibat-akibat yang bisa terjadi jika antibiotik tidak dihabiskan;

  1. Bakteri yang menyebabkan infeksi kemungkinan tidak semuanya terbunuh. Infeksi bisa datang kembali di tempat yang sama atau muncul di tempat lain.
  2. Bisa terjadi resistensi bakteri. Bakteri berkembang biak sangat cepat karena itu penanganannya juga harus cepat dan efisien.
  3. Bakteri akan mejadi makin tangguh.

Beberapa hal dibawah ini bisa Anda lakukan agar tidak lupa menghabiskan antibiotik;

  1. Banyak infeksi dapat diobati dengan salah satu dari beberapa obat. Tanyakan kepada dokter Anda, untuk bisa memberi obat yang hanya dikonsumsi sekali atau dua kali per hari.
  2. Buatlah sebuah kalender antibiotik terpisah dan letakkan di tempat yang menonjol di rumah Anda, supaya Anda selalu ingat kapan saatnya obat harus diminum. [SaS] Dikutip dari ikatanapotekerindonesia.net

Category: 

Comments

Edukasi dokter kepada pasien tentang cara mengkonsumsi antibiotik adalah penting pada waktu seorang pasien konsul ke dokternya. Banyak pasien yang tidak mengkonsumsi antibiotik sesuai aturan karena ketidaktahuan mereka tentang antibiotik itu sendiri. Hal yang penting juga untuk mencantumkan tulisan "Harus Dihabiskan" pada plastik obat serta penjelasan dari petugas apotek pd waktu pasien menebus obat.

Mengkonsumsi obat secara tepat dan benar tentu saja akan menghasilkan kesembuhan yg tepat dan cepat.

-Riani Hapsari-

Betul betul betul .....

Saya pernah magang di apotek, saya amati yang menyerahkan obat (bisa Asisten Apoteker atau Apoteker) selalu mengingatkan untuk menghabiskan obat yang berupa Antibiotik.
Semoga hal ini dilakukan di semua apotek.

Untuk pembuatan jadwal, saya pribadi membuat reminder di HP saya setiap kali saya harus meminum antibiotik. Sehingga, saya tidak lupa dan jeda minum obatnya pun sama (jika harus diminum 3 kali sehari, maka saya minum tiap 8 jam). Jadi, dalam mengkonsumsi obat baiknya jeda minum obatnya tetap.
Jika saya sedang tidak di rumah, saya juga selalu mengingat untuk membawa antibiotiknya juga.

Saya tidak setuju dengan saran meminta antibiotik yang diminum hanya 1 atau 2 kali sehari. Karena biasanya, antibiotik dengan frekuensi minum yang lebih sedikit itu maka sifatnya lebih poten. Jika penggunaan antibiotik spt itu sering digunakan maka kemungkinan besar, bakteri penginfeksi sudah terlatih terhadap antibiotik itu sehingga kemungkinan resistensi akan semakin besar dan jika infeksi yang lebih besar terjadi, antibiotik yang poten itu mungkin sudah tidak berefek.
Jangan karena malas untuk mengingat minum antibiotik malah menggunakan antibiotik yang terlalu poten apalagi jika diberikan pada anak kecil.

Saya agak bingung dengan pernyataan "bisa terjadi resistensi bakteri" dan "bakteri semakin tangguh". Pada dasarnya kan keduanya sama hehehe.

Memang di setiap kita berobat, lalu di beri Antibiotik kita di haruskan menghabiskan si Antibiotik tersebut(tanpa penjelasan yang detail).
Seharusnya sebelum memberi syarat obat harus di habiskan, penting sekali pasien di berikan penjelasan kenapa obat tersebut harus di habiskan. Dengan di beri penjelasan singkat dari edukasi ini, kemungkinan besar(pasti) pasien akan menghabiskan obat antibiotik untuk kesembuhan yang maksimal. Terima Kasih Infonya Sangat Bermanfaat. :) :)

Sebuah akun twitter apoteker pernah menyebut bahwa proses research and development untuk antibiotik baru semakin menurun. Kalaulah info ini benar, maka kita harus hati-hati benar minum antibiotik :)

Artikel diatas memang benar, bahwa setiap pemakaian antibiotik harus dihabiskan untuk menghindari efek resistensi dari bakteri.

Akan tetapi, bilakah kita menyadari, bahwa penggunaan antibiotik di Indonesia sering disalahgunakan?

Bilakah kita menyadari label "OBAT KERAS, HARUS DENGAN RESEP DOKTER", tetapi antibiotik dengan mudahnya didapatkan oleh orang awam?

Bilakah kita menyadari, banyak dokter yang langsung mem"BOM" pasien yang sakit dengan antibiotik?

Bilakah kita menyadari, konsep pemikiran masyarakat yang menganggap antibiotik sebagai "OBAT DEWA yang mampu menyebuhkan sakit?"

Antibiotik bukanlah OBAT DEWA, BUKAN juga Obat bebas yang dijual dan didapatkan dengan mudah di apotek2 atau toko obat

Antibiotik merupakan OBAT KERAS yang harus didapatkan dengan resep dokter, berdasarkan diagnosa dokter yang rasional

Aturan memang sudah ada, bahkan tertuang dalam undang2. Namun kenyataan pelaksanaan masih belum maksimal.

Mari kita sama2 berusaha untuk menanamkan kesadaran dalam pemakaian antibiotik. Sekarang ini, kita terus adu lari antara pengembangan antibiotik dengan bakteri. Apabila kita KALAH berlomba dengan bakteri, bagaimana nasib kita manusia kedepannya?

Theo... kaya bikin puisi.. hehehehe

Yang pertama kali diajarkan dalam kuliah Farmakologi adalah bahwa obat itu adalah racun, yang membedakan adalah DOSISnya. Jadi harus tepat dosis, agar tujuan pengobatan tercapai. Dosis bukan hanya takaran satu kali minum, tapi jumlah obat yang harus dipertahankan ada dalam darah agar obat bisa melakukan pekerjaannya dengan baik. Demikian juga dengan antibiotik: jumlah sekali minum, tiap berapa lama harus diminum (agar kadar antibiotik dalam darah bisa dipertahankan), sampai berapa hari diminum (karena antibiotik juga perlu waktu tertentu untuk menuntaskan tugasnya) harus sesuai dengan aturan pakainya. Kuman yang dilawan oleh antibiotik biasanya tidak langsung mati, tapi dia pura-pura mati sambil menyusun kekutan yang lebih dasyat untuk mengalahkan antibiotika. Jadi harus terus diserang oleh antibiotika, sebelum kekuatannya bertambah. Karena itulah bila mendapatkan antibiotika, harus dihabiskan agar kuman benar-benar KO oleh antibiotika.

Benar sekali bahwa ketika minum antibiotik, maka minumlah sampai habis!
Namun berdasarkan pengalaman, meminumnya sampai habis adalah tantangan yang cukup berat. Jika memang benar antibiotik diperlukan (diresepkan oleh dokter) maka hadapilah tantangan itu, dan menangkan tantangan dengan menghabiskannya sesuai dengan jadwal minumnya tentunya.

Ada kalanya pasien dengan inisiatif sendiri membeli antibiotik ke apotek, dan ketika ditanya "Untuk penyakit apa? sudah berapa lama sakitnya?", ternyata jawabannya adalah digunakan untuk indikasi yang memang tepat, namun sakit baru terjadi di pagi hari.. Bahkan penyebab sakitnya pun belum diketahui dengan jelas. Penyakit yang belum jelas, belum lagi obat yang tidak dihabiskan.. Benar-benar diperlukan edukasi bagi masyarakat tentang antibiotik..